Dalam sesi tersebut, JAMTANI berbagi pengalaman mengenai Climate Business Field School (CBFS) sebagai pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan isu perubahan iklim dengan pengembangan usaha petani. Melalui CBFS, petani didorong untuk memahami risiko perubahan iklim, menganalisis kondisi usaha tani, mengidentifikasi peluang dan inovasi, serta mengambil keputusan berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu pengalaman JAMTANI yang relevan untuk dibagikan dalam forum petani Asia karena perubahan iklim tidak hanya berdampak pada produktivitas, tetapi juga terhadap keberlanjutan usaha dan pendapatan petani. Karena itu, penguatan kapasitas petani perlu berjalan bersama dengan pengembangan usaha dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.
Agenda hari kedua juga membahas Assessment of Strategic Plan 2021–2025 dan rancangan Strategic Plan AFA 2026–2035, serta rencana kerja AFA (The Asian Farmers’ Association for Sustainable Rural Development) untuk tiga tahun ke depan. Isu Young Farmers menjadi salah satu agenda penting bersama hak atas tanah, agroekologi, pengembangan koperasi dan bisnis, serta perempuan petani.
Belajar Langsung dari Praktik Pertanian Tangguh Iklim
Rangkaian kegiatan dilanjutkan pada 15 Oktober 2026 melalui field visit dalam agenda Women Farmers Gathering in Asia, bertepatan dengan International Rural Rural Women’s Day.
Peserta dibagi dalam beberapa kelompok untuk mengunjungi praktik pertanian dan teknologi hijau yang dikembangkan petani di Provinsi Kampot dan Kep, Kamboja. JAMTANI mengikuti Team B: Green Technology for Climate-Resilient Agriculture yang mengunjungi sejumlah demonstration farms anggota Kampot Pepper Promotion Association (KPPA).
Kegiatan ini bertujuan memberikan pengalaman langsung mengenai penerapan teknologi hijau untuk meningkatkan ketahanan produksi lada terhadap perubahan iklim, sekaligus membuka ruang dialog antara petani, organisasi petani, mitra pembangunan, dan peserta dari berbagai negara.
Kunjungan pertama dilakukan ke lahan Ms. Hing Kop di Kampong Trach District, Kampot Province, yang mengembangkan solar-electric pepper dryer dome.
Peserta melihat secara langsung proses pengeringan lada menggunakan energi matahari dan listrik, serta berdialog mengenai pengalaman petani perempuan dalam menggunakan teknologi tersebut.
Teknologi pengering tenaga surya membantu petani mengeringkan lada dalam berbagai kondisi cuaca, termasuk pada akhir musim panen ketika hujan dan kelembapan masih tinggi. Teknologi ini juga berpotensi meningkatkan kualitas, kebersihan, warna, aroma, dan nilai jual lada sekaligus menghemat waktu, tenaga, dan energi.
Field visit tersebut tidak hanya menjadi kegiatan melihat teknologi, tetapi juga menjadi ruang pertukaran pengalaman langsung antara petani dan peserta. Peserta berdiskusi mengenai biaya, manfaat, tantangan penerapan teknologi, peran perempuan dalam penggunaan teknologi, dukungan organisasi petani, hingga peluang untuk memperluas praktik tersebut.
Bagi JAMTANI, pembelajaran langsung seperti ini memperkuat pemahaman bahwa inovasi pertanian tangguh iklim perlu mempertimbangkan aspek teknologi, ekonomi, pengetahuan petani, peran perempuan, organisasi, serta akses terhadap pasar dan dukungan kebijakan.
Keikutsertaan Feri Rianto dan Mohammad Irham selama rangkaian 12th AFA General Assembly menjadi kesempatan bagi JAMTANI untuk berbagi pengalaman dari Indonesia sekaligus belajar dari praktik organisasi dan petani di negara-negara Asia.
Berbagai pembelajaran dari forum, best practice, dan field visit tersebut diharapkan dapat menjadi bahan penguatan kerja JAMTANI bersama petani dan generasi muda di Indonesia, khususnya dalam pengembangan Climate Business Field School, pertanian tangguh iklim, serta penguatan peran petani muda dan perempuan di pedesaan.
Melalui partisipasi ini, JAMTANI terus mendorong pertukaran pengetahuan, solidaritas petani, inovasi, dan kolaborasi lintas negara untuk membangun pertanian keluarga yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim, berkelanjutan, dan memberikan ruang yang lebih besar bagi generasi muda serta perempuan sebagai pelaku utama pembangunan pedesaan.