Pangandaran 2026 – Tim media dari Jerman yang terdiri atas Thorsten Lichtblau, Emily Christine Macinnes, dan David Friedrich Lubking mengunjungi berbagai lokasi dampingan JAMTANI di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, dan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada 2–9 Februari 2026. Kunjungan ini bertujuan mendokumentasikan praktik-praktik baik adaptasi perubahan iklim dan mencari cerita inspiratif dari masyarakat yang akan digunakan sebagai bahan promosi untuk menjangkau dukungan donor baru.

Kunjungan ini juga menjadi kesempatan untuk menelusuri mozaik program yang telah tumbuh dan berkembang bersama masyarakat dampingan JAMTANI. Dari Sekolah Lapang Iklim Petani dan Climate Field Lab, praktik pertanian terpadu, bank benih, budidaya azolla dan maggot Black Soldier Fly (BSF), hingga pengembangan usaha rumah tangga dan mata pencaharian alternatif, setiap lokasi menyimpan cerita tentang bagaimana masyarakat membangun ketangguhan menghadapi perubahan iklim. Beragam inisiatif tersebut menunjukkan bahwa adaptasi perubahan iklim tidak hanya berbicara tentang bertahan dari berbagai risiko, tetapi juga tentang menciptakan peluang baru, memperkuat ketahanan pangan, dan menumbuhkan kemandirian masyarakat desa.

Mencari Cerita dari Kehidupan Petani
Selama kunjungan, tim media tidak hanya mengambil gambar dan melakukan wawancara, tetapi juga berusaha memahami kehidupan sehari-hari masyarakat desa. Ketertarikan mereka tertuju pada para pemuda tani yang memilih tetap bertani dan mengembangkan inovasi di tengah tantangan perubahan iklim.

Untuk memahami kehidupan petani secara lebih mendalam, tim media bahkan menginap di rumah salah satu petani muda dampingan JAMTANI, Ai Samrotul Fuadah. Mereka mengikuti aktivitas sehari-hari keluarga petani, mendengar cerita, serta melihat secara langsung bagaimana pertanian menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat desa. Pengalaman tersebut memberikan gambaran yang lebih utuh tentang semangat generasi muda dalam menjaga pertanian sekaligus beradaptasi dengan perubahan iklim.

Menyaksikan Inovasi dari Sawah Hingga Pesisir
Di Pangandaran, tim media mengunjungi Climate Field Lab dan sejumlah desa dampingan untuk melihat berbagai inovasi, seperti pengendalian hama ramah lingkungan, bank benih, budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), pemanfaatan azolla, serta pengembangan usaha rumah tangga oleh Kelompok Wanita Tani Srikandi Mandiri.

Kunjungan kemudian berlanjut ke Kabupaten Cilacap. Di Desa Cimrutu dan Desa Ujunggagak, mereka mendokumentasikan berbagai upaya masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim, mulai dari pencatatan data iklim, pengembangan varietas padi toleran iklim, penyimpanan benih, hingga diversifikasi usaha ternak sebagai sumber pendapatan alternatif.
Tim media juga mengunjungi kelompok usaha rumah tangga di Desa Paledah dan Desa Ciganjeng yang berhasil mengembangkan berbagai produk olahan berbasis potensi lokal dan memperluas akses pasar melalui dukungan program JAMTANI.

Belajar dari Petani, Menguatkan Harapan
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, tim media menghadiri Sekolah Lapang Iklim Petani di Farmers Field Lab. Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana petani menggabungkan pengetahuan lokal dan ilmiah melalui analisis agroekosistem, pembelajaran ekologi tanah, dan praktik pertanian terpadu.

Melalui kunjungan ini, tim media memperoleh gambaran langsung mengenai dampak program-program yang dijalankan JAMTANI bersama masyarakat. Berbagai inovasi yang dikembangkan tidak hanya meningkatkan kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan, menciptakan peluang ekonomi baru, dan menumbuhkan semangat generasi muda untuk membangun pertanian yang tangguh dan berkelanjutan.